FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS
TUGAS KELOMPOK 6
MANAJEMEN KELAS DI SD

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
R. ADELIA GUSWITA
1620193
7.5 PGSD
DOSEN
PENGAMPU
YESSI RIFMASARI, MPd
PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BELAJAR DI KELAS
A. FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Saat proses belajar dapat terjadi berbagai hambatan,
itulah salah satu bunyi dari prinsip pembelajaran. Untuk dapat mengetahui dan
mengatasi hambatan- hambatan maka kita harus berfikit mengenai faktor- faktor
apa saja yang dapat mempengaruhi suatu proses belajar dan pembelajaran. Setelah
mengetahui berbagai prinsip pembelajaran, kita dapat menganalisa lebih jauh
mengenai factor- faktor yang dapat berpengaruh pada saat proses belajar. Di prinsip-prinsip
pembelajaran kita mengetahui bahwa belajar membutuhkan proses, interaksi,
motivasi, lingkungan, dll. Kali ini kita akan bahas dalam konteks faktor-faktor
yang dapat berpengaruh saat proses belajar dan pembelajaran. Faktor-faktor
tersebut adalah:
1. Faktor
Individu/Internal
a. Keadaan
jasmani.
Apabila
seorang individu berada dalam keadaan yang kurang sehat maka proses belajar
akan sedikit terhambat. Berbeda halnya dengan seseorang yang dalam keadaan
sehat akan dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih efektif. Maka dari
itu, guru yang mengetahui ada sisiwanya yang sakit, sebaiknya menyuruh
sisiwanya untuk beristirahat.
b. Keadaan
fungsi jasmani.
Ini
berkaitan dengan fungsi alat tubuh seseorang, seperti pengelihatan,
pendengaran, lisan, dll yang keberadaannya sangat berpegnaruh saat proses
belajar.
c. Keadaan
psikologis.
Ini
sangat erat kaitannya dengan beberapa hal dibawah ini:
1) IQ
atau kecerdasan siswa.
IQ
adalah kecerdasan bawaan yang dimiliki oleh seseorang. IQ biasanya
mengindikasikan kecepatan menghitung dan pemahaman materi yang diajarkan.
2) Motivasi
Belajar siswa.
Motivasi
akan sangat berpengaruh bagi setiap siswa, karena motivasi salah satu fungsinya
adalah mendorong atau menggerakkan jiwa kita sehingga mau melakukan sesuatu.
3) Minat
dan Bakat.
Hal
yang disenangi akan mendorong siswa untuk belajar. Anak terlahir dengan anugrah
kemampuan yang berbeda-beda. Maka dari itu, tugas guru adalah membantu siswa
mengembangkan kemampuan mereka. Siswa yang mempunyai kemampuan menggambar
sebaiknya diberi stimulus lebih dalam menggambar. Dan juga siswa yang mempunyai
kemampuan menggambar sebaiknya tidak diberi pelajaran menyanyi lebih banyak.
Maka dari itu, sebaiknya sekolah memberikan ekstrakurikuler sebagai wadah
pengembangan bakat minat siswa.
2. Faktor
Eksternal
a. Lingkungan,
meliputi:
1) Lingkungan
sekolah
a) Lingkungan
Fisik: Sekolah yang baik seharusnya dijauhkan dari kebisingan dan polusi.
b) Lingkungan
sosial: Tata letak sekolah juga harus diperhatikan. Sebaiknya tidak didepan
pasar, mall, tempat karaoke, atau tempat hiburan yang lain.
2) Lingkungan
sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan
memengaruhi belajar siswa
3) Lingkungan
keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan
keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan
keluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa.
b. Faktor
tujuan sekolah
Meliputi faktor:
1) Kejelasan
Sekolah
a) Apa
visi-misi sekolah tersebut?
b) Apa saja tujuan pembelajaran di sekolah tersebut?
2) Urgensi
Apa
jadinya jika anak tidak suka pelajaran IPA (misalnya: biologi, fisika, dan
kimia) tetap diajarkan materi-materi IPA? Berhasilkah pembelajaran itu? Mungkin
tidak akan berhasil kecuali jika anak berusaha mati-matian. Tapi itu hanya
sebagian kecil. Maka dari itu, disinilah faktor pentingnya kelas peminatan atau
penjurusan di SMA/MA.
3) Tingkat
Kesulitan
Mengapa
sekolah di Indonesia dibuat berjenjang? Ada jenjang SD, SMP, dan SMA? Karena
pmerintah memperhatikan faktor kesulitan materi yang dipelajari anak. Bukan
hanya kelas yang berjenjang. Pembelajaran materi pun harus diperhatikan dari
yang termudah ke yang tersulit, dari yang konkret menuju ke yang abstrak. Hal
tersebut dimaksudkan untuk membantu memudahkan siswa dalam belajar.
c. Materi
yang dipelajari. Meliputi,
1) Kejelasan
materi
2) Kemenarikan
(media, strategi, dll)
3) Sistematika
pembelajaran materi
4) Jenis
materi (menjelaskan sesuai koteks)
5) Faktor
instrumen (kelengkapan, kuantitas, kualitas, kesesuaian)
6) Tingkat kesulitan materi
d. Pengajar/guru.
Pengajar
memegang peranan yang penting bagi keberhasilan belajar siswa, karena peran
guru tak akan bisa digantikan dalam proses pembelajaran. Adapun peran guru
adalah sebagai pengajar yang ahli, motivator, mengelola siswa dan lingkungan
belajar, sebagai sosok yang mempengaruhi anak didik, memberikan nasihat pada
anak didik, dan mempermudah anak didik dalam belajar.
1) Faktor
kondisi fisik
Bayangkan
saja, apabila ada seorang guru yang buta warna tetapi ia mengajarkan materi
mewarnai atau mengenal warna terhadap siswanya. Jelas tidak mungkin, bukan.
Jadi, sebaiknya seorang guru membelajarkan kepada siswanya mengenai materi yang
tidakk bertentangan dengan kondisi fisiknya. Jika ia buta warna, mungkin
sebaiknya ia mengajarkan materi yang tidak berhubungan dengan warna misalnya
mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, IPS, dll.
2) Faktor
Kondisi Psikis
Seorang
guru yang sedang stres sebaiknya tidak mengajar terlebih dahulu. Karena
dikhawatirkan ia akan melampiaskan emosinya kepada siswa-siswanya. Hal ini akan
berdampak sangat tidak baik kepada guru maupun siswa-siswanya. Siswa mungkin
trauma terhadap guru yang telah atau bahkan sering melampiaskan emosinya kepada
mereka. Bahkan yang lebih dikhawatirkan apabila ia tidak hanya trauma terhadap
guru tersebut saja, akan tetapi kepada guru-guru lain juga.
B. MENGATUR
KONDISI KELAS DAN IKLIM BELAJAR SISWA
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar
anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya.
Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan
pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan
mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan
kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak
perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang
mampu dan mau dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan 6
cara sebagai berikut;
1. Penciptaan
lingkungan fisik kelas yang kondusif
2. Penataan
ruang belajar sebagai sentra belajar
3. Penciptaan
atmosfir belajar yang kondusif
4. Penetapan
strategi pembelajaran dan
5. Pemanfaatan
media dan sumber belajar
6. Penilaian
hasil belajar.
Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang
belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang
menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan
baik seperti: pengaturan meja, kursi, lemari, gambar-gambar afirmasi, pajangan
hasil karya siswa yang berprestasi, alat-alat peraga, media pembelajaran dan
jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran
yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa.
Design ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan, menumbuhkan, dan
memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. Dengan ruang
kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi secara bebas, saling
menghormati dan menghargai pendapat masing-masing.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru
dalam menata lingkungan fisik kelas, yaitu:
1. Visibility
(KeleluasaanPandangan)
Visibility
artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu
pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau
kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua
siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility
(mudah dicapai)
Penataan
ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang
yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk
harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah
dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas
(Keluwesan)
Barang-barang
di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan
kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika
proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan
disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip
keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan
dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan
dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya
memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa
untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan
ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan yaitu:
·
Ukuran bentuk kelas
·
Bentuk serta ukuran bangku dan meja
·
Jumlah siswa dalam kelas
·
Jumlah siswa dalam setiap kelompok
·
Jumlah kelompok dalam kelas
·
Komposisi siswa dalam kelompok (seperti
siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang
diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar
di kelas di sekolah formal.tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran
siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar,
bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa
akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan
tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode
pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan
karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis,
dan biologis siswa itu sendiri.
Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata
tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa
1. Pengaturan
meja-kursi
Susunan
meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling berinteraksi dan
memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan
aktivitas belajar. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan, dipindahkan, dan
disusun secara fleksibel. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih
meja-kursinya masing-masing,
Berikut
dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi yang dapat dipilih oleh guru
guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar siswa dalam proses
pembelajaran.
a. Model
huruf U
Model
susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan. Dalam model
ini, para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca, dapat melihat guru
atau media visual dengan mudah, dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan
langsung.
b. Model
Corak Tim
Pada
model ini, meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang
tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim
(kelompok siswa). Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna
menciptakan suasana yang akrab. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar
menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis.
c. Model
Meja Konferensi
Model
ini cocok jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi dominasi
pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa.
d. Model
Lingkaran
Dalam
model ini, tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka
dapat berinteraksi berhadap-hadapan secara langsung. Model lingkaran seperti
ini cocok untuk diskusi kelompok penuh.
e. Model
Fishbowl
Susunan
ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan
peran, berdebat, atau mengobservasi aktivitas kelompok. Susunan yang paling
khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. Guru juga dapat meletakkan
meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.
f.
Model Breakout groupings
Jika
kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi
di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang
didasarkan pada tugas tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling
berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu.
2. Pemajangan
gambar dan warna
Pemajangan
gambar dan pemilihan warna perlu mempertimbangkan saran-saran berikut.
a. Siswa
perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan
dalam kelas. Siswa, misalnya, dapat diminta membuat gambar, poster, motto,
puisi, atau petikan ayat, hadis, dan pesan tokoh tertentu, untuk dipilih dan
dipajang dalam kelas.
b. Guna
menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama, guru
perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau poster-poster tersebut.
c. Guna
mengoptimalkan penataan ruang, maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya
dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. karya-karya terpilih siswa yang
dipajang dapat berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa
untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain.
3. Ventilasi
dan pengaturan cahaya
Suhu,
ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada)
adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena
itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
4. Pengaturan
penyimpanan barang-barang
Barang-barang
hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera
diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang
karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku
pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.
Tentu
saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodik harus dicek
dan recek. Hal lainnya adalah pengamanan barang-barang tersebut. Baik dari
pencurian maupun barang-barang yang mudah meledak atau terbakar. Hal lain yang
perlu diperhatikan dalam penciptaan lingkungan fisik tempat belajar adalah
kebersihan dan kerapihan. Seyogyanya guru dan siswa turut aktif dalam membuat
keputusan mengenai tata ruang, dekorasi dan sebagainya.
C. KONDISI
YANG MEMPENGARUHIU IKLIM BELAJAR
Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal
yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan
kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan
strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar
mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa.
Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses
pembelajaran.
Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir
belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yaitu :
1. Menyenangkan
dan mengasyikkan
Menyenangkan
dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. Guru harus berani
mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru hendaknya dapat mengundang dan
mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang
siswa untuk berkreasi secara aktif. Rancangan pembelajaran terpadu dengan
materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan
baik oleh guru. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:
a. Bersikap
ramah
b. Membiasakan
diri selalu tersenyum
c. Berkomunikasi
dengan santun dan patut
d. Adil
terhadap semua siswa
e. Senantiasa
sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya.
f.
Menciptakan kegiatan belajar yang kreatif
melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa.
2. Mencerdaskan
dan menguatkan
Mencerdaskan
bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan
majemuk (multiple intelligence). Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru
dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi
adaptif dalam keseharian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen
pendidikan kecakapan hidup (life skill). Oleh karena itu, guru dilatih:
a. Memilih
tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga
dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi
tanggung jawabnya.
b. Teknik-teknik
penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran, karena jika anak
senang dan asyik, tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melainkan
juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar.
c. Memberikan
pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam
proses pembelajaran.
d. Jangan
terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan
menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa
bersalah.
Beberapa
praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan
berikut ini.
a. Sebelum
memulai pelajaran, dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa
beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing
siswa untuk belajar. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan
nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu
tersebut.
b. Di
awal pelajaran, guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan
senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran.
Selanjutnya, guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani
kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai,
kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan.
c. Selama
proses pembelajaran berlangsung, guru senantiasa mengembangkan bentuk
komunikasi yang efektif, agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat
dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan, tidak takut atau
merasa bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman.
2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit AlfabetaSlameto
Syah,
Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sebutkan faktor positif yg dapat mempengaruhi siswa?
BalasHapusCara nya dengan kita memotivasi siswa secara baik dan benar agar siswa lebih dapat memacu pembelajaran nya
BalasHapusMaterinya bagus, dan bermanfaat bagi pendidik.
BalasHapusBagaimana cara seorang guru dalam meningkatkan motivasi siswa yang kurang aktif dalam proses belajar
BalasHapusTerimakasih, ini cukup membantu menambah pengetahuan..
BalasHapusMaterinya sangat bagus dan bermanfaat
BalasHapusMaterinya sangat bagus dan bermanfaat
BalasHapusTeruslah berbagi artikel ya kak.
BalasHapusTerima kasih materinya membantu kak...
BalasHapusSangat membantu sekali
BalasHapusmaterinya bagus
BalasHapus