MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA
TUGAS KELOMPOK 5
MANAJEMEN KELAS DI SD

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
R. ADELIA GUSWITA
1620193
7.5 PGSD
DOSEN
PENGAMPU
YESSI RIFMASARI, MPd
PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
MASALAH
DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah
sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri atau
orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan menurut pengertian secara
psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam
tingkat laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi
kebutuhan lingkungannya. Pengertian
belajar dapat didefinisikan yaitu belajar alah sesuatu proses yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkat laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu ini sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang
dialami oleh murid akan mengahambat kelancaran proses yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan dirinya yaitu berupa kelemahan.
Kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan
bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid
yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat meimpa murid-murod yang
pandai atau cerdas.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan dirinya
yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan
yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya
dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat
menimpah murid-murid yang pandai atau cerdas. Dalam interaksi belajarmengajar
siswa merupakan kounci utama keberhasilan dilakukan. Proses belajar merupakan
aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.
B. KEBIJAKAN
PENANGANAN MASALAH DALAM KELAS
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok,
yaitu mengajar dan mengelola kelas.Kegiatan mengajar dimaksudkan secara
langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan
siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa,
mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh
kegiatan mengajar.Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan
mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat
berlangsung secara efektif dan efisien.Memberi ganjaran dengan segera,
mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan
permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola
kelas.Dalam kenyataan sehari-hari kedua jenis kegiatan itu menyatu dalam
kegiatan atau tingkah laku guru sehingga sukar dibedakan.Namun demikian,
pembedaan seperti itu sangat perlu, terutama apabila kita ingin menanggulangi
secara tepat permasalahan yang berkaitan dengan kelas.
Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat
penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik.Itu
karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni
pengajaran dan pengelolaan kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni
pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
C. MACAM-MACAM
PERMASALAHAN DALAM MANAJEMEN KELAS
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang
bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa
masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan
amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan
antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin
mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi
tanggungjawabnya.
Masalah
pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1. Masalah
Individual
Penggolongan
masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku
manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki
kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang
individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia
akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku,
yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut
balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan
makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian
orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
Attention
getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal
menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang
saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari
perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif
dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat
onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang
rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada
anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
Powerseeking
behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari
kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari
kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan
pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan
sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada
anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa
sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif
memperlihatkan ketidakpatuhan.
Revenge
seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) : Siswa yang
menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia
sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan,
penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama
siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan
anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan
mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak
yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif
daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai
anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak
pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
Helplessness
(peragaan ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada
dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya
(yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang
menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah
kegagalan yang terus menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi
ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan
diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat
masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau
perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi
juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk
mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri
para siswa. Diantaranya yaitu :
a. Jika
guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu
merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari
perhatian.
b. Jika
guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa
siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika
guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang
bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d. Jika
guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang
bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru
hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah
laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke
mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan
ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2. Masalah
Kelompok
Ada
tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya
kekompakan
Kurangnya
kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara
para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis
kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini.
Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak
sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa
di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga
mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
b. Kesulitan
mengikuti peraturan kelompok
ika
suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas
yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan
mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik;
bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang;
berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa
diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau
menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c. Reaksi
negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi
negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar
yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok
itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota
kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap
“menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan
kelompok.
d. Penerimaan
kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang
Penerimaan
kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu
mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku
menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah
perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang
guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah
berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e. Kegiatan
anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan.
berhenti
melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya
saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam
kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan
terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal
kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering
terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru
tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan
kekhawatiran.
f.
Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan
tingkah laku agresif atau protes.
Masalah
kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan
tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun
terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas,
kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di
rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan
lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya
protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan
penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g. Ketidakmampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.
Ketidakmampuan
menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi
secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian
keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok,
perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu
terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu
ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai
ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah
tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal
biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Mengajar
sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi
harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat
membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang
berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi
sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman
dan motivator.
Berdasarkan
pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan
pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Masalah
pengarahan
Di
waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar,
kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a. Berorientasi
kepada tujuan pelajaran.
b. Mengkomunikasikan
tujuan pelajaran kepada siswa.
c. Memahami
cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d. Menyesuaikan
tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
e. Merumuskan
tujuan instruksional jelas.
Keadaan
ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut,
mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa
tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak
bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.
2. Masalah
evaluasi dan penilaian
Guru
dalam tugasnya untuk merencanakan,
melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a. Guru
dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b. Prosedur
evaluasi tidak jelas
c. Guru
tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif.
d. guru
memiliki cara penilaian yang tidak seragam.
e. Guru
kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f.
Guru tidak memanfaatkan analisa hasil
evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan
evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak
mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah
muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru
tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai
pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.
3. Masalah
isi dan urut-urutan pelajaran
Dalam
membuat perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi,
guru dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai
berikut:
a. Guru
kurang menguasai materi
b. Materi
yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c. Materi
yang diberikan sangat luas
d. Guru
kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e. Guru
kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran.
f.
Guru kurang mampu mengembangkan materi
pelajaran yang diberikannya.
g. Guru
kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang
diberikan.
4. Masalah
metode dan sistem penyajian bahan pelajaran
Agar
guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu
menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian
yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat
membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam
pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah
sebagai berikut:
a. Guru
kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.
b. Pemilihan
metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c. Kurang
terampil dalam menggunakan metode
d. Sangat
terikat pada satu metode saja
e. Guru
tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.
5. Masalah
hambatan-hambatan
Dalam
pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya
ialah:
a. Banyak
guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
b. Guru
kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
c. Guru
kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.
d. Kurangnya
buku-buku bacaan ilmiah
e. Keadaan
sarana yang kurang
f.
Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa
Inggris.
Dengan
menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru
mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya
efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk
mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah.
D. SOLUSI
DALAM MENGATASI PERMASALAHAN MANAJEMEN KELAS
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas,
ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
1. Behavior
– Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
Asumsi
yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan
“buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam
mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk
membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku
negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya
dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan
menimbulkan masalah baru.
2. Socio-Emotional
Climate Approach (Humanistic Approach)
Asumsi
yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar
yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta
didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi
penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Dalam
hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru
(realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik
sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut
pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). Sedangkan Haim C.
Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk
membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa
yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan
sebagai alternatif penyelesaian.
Selain
itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan
peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan
menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar
committed terhadap rencana yang telah dibuat memupuk keberanian menanggung
akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana
penyelesaian baru yang lebih baik. Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan
pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik
sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala
konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati
tata aturan masyarakat
3. Group
Process Approach
Asumsi
yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar
berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan
memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck &
Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan
group proses, yaitu :
a. mutual
expectations
b. leadership
c. attraction
(pola persahabatan)
d. norm
communication
e. cohesiveness.
4. Pendekatan
Otoriter
Pandangan
yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk
nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas
sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila
timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka
perlu adanya pendekatan:
a. Perintah
dan larangan
b. Penekanan
dan penguasaan
c. Penghukuman
dan pengancaman
d. Pendekatan
perintah dan larangan
5. Pendekatan
Permisif
Pendekatan
yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar
yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga
bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik.
Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak
menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya
yaitu sebagai berikut:
a. Tindakan
pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan
pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
b. Meremehkan
sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
c. Memberi
peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
d. Menukar
dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
e. Menukar
kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
f.
Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada
seorang anggota
6. Pendekatan
membiarkan dan memberi kebebasan
Sekali
lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan
prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian
pegangan pengajar dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau
selama peserta didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas
sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau
tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat
yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam
pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.
Tapi
ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih
rendah.Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar
bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak
pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.
DAFTAR PUSTAKA
Almasawi,dkk.
2010. Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas.
Ekosiswoyo,
Rasdi. 2000. Manajemen kelas. Semarang: CV. Ikip.Semarang press
Sebutkan contoh masalah dalam manajemen kelas?
BalasHapusMaterinya sangat bagus dan bermanfaat
BalasHapusMaterinya bagus dan sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusmaterinya bagus
BalasHapusMaterinya bagus kak
BalasHapus