PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS
TUGAS KELOMPOK 3
MANAJEMEN KELAS DI SD

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
R. ADELIA GUSWITA
1620193
7.5 PGSD
DOSEN
PENGAMPU
YESSI RIFMASARI, MPd
PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS
A. PENGERTIAN PENDEKATAN MANAJEMEN
KELAS
Pendekatan adalah usaha / upaya
dalam rangka aktivitas yang dilakukan untuk mengadakan hubungan dengan sesuatu
yang menjadi objeknya (siswa) melalui interaksi timbal balik.
Managemen kelas pengelolaan,
penyelenggaraan, keterlaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk
mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan.
Pendekatan yang dilakukan oleh
seorang guru dalam managemen kelas akan sangat dipengaruhi oleh pandangan guru
tersebut terhadap tingkah laku siswa, dan situasi kelas pada waktu seorang
siswa melakukan penyimpangan. Keharmonisan hubungan guru dan siswa, tingginya
kerjasama di antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi
yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka
pengelolaan kelas.
Pendekatan yang dipilih guru
senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. pendekatan
pada dasarnya dielompokkan menjadi dua yaitu pendekatan managerial dan
pendekatan psikologikal. Tetapi dalam makalah ini yang dibahas hanya pendekatan
dalam kelompok managerial.
B.
SIKAP GURU
DALAM MANAJEMEN KELAS
Untuk memperkecil masalah gangguan
dalam pengelolaan kelas hendaknya guru bersikap seperti, yaitu:
1.
Hangat dan
antusias, guru yang hangat dan akrab pada siswa akan menunjukkan antusias pada
tugasnya.
2.
Menggunakan
kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan
meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar.
3.
Bervariasi
dalam penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru dan siswa.
4.
Guru luwes
untuk mengubah strategi mengajarnya
5.
Guru harus
menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada
hal – hal yang negatif
6.
Guru harus
disiplin dalam segala hal.
C.
PERAN GURU
DALAM MANAJEMEN KELAS
Adapun peran guru dalam memenej
kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1.
Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya
kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya
bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid,
lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui
pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu meja guru
berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara tradisional
tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak
sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas
sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya pasif menerima.
a.
Kelas
terbuka
Kelas dapat terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat
kelas berbeda. Pelaksanaan model ini dapat dilaksanakan di Indonesia, jika
jadwal pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 sama atau diterapkan di kelas tinggi
saja. Misalnya: pada waktu jam pelajaran Bahasa Indonesia, maka seluruh guru
mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa masuk ke kelas di mana siswa
menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian ada siswa pada mata pelajaran
Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada waktu Matematika masuk kelas IV,
dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V. Konsep ini mengikuti perkembangan
masing-masing individu.
b.
Kelas dua
tingkat
Konsep ini dilaksanakan dengan cara seorang guru
menghadapi kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi berdekatan, misalnya: kelas
I dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c.
Kelas awal
Pembelajaran dengan pendekatan integral atau terpadu
dengan kehidupan anak pada tahap pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep,
topic, bahan pelajaran dengan mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan
secara artificial, bila dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata
pelajaran-mata pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satumodel pembelajaran
yang utuh sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami. Hal ini
terjadi karena anak belajar secara keseluruhan dalam hubungan dengan kehidupan
akan lebih mudah dibanding belajar dengan pemisahan-pemisahan secara artifisial
yang tak bermakna.
2.
Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada
pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran
yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
a.
Seating
chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang
pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang
sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid
tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar
sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan
penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh
buruknya. Penataan dan gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga
setiap kelompok mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di
kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan
pandangan mereka sendiri.
b.
Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam
pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan
kejenuhan siswa.
c.
Tapal kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang
dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan
meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok
kecil.
3.
Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi
beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan
atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan
di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya.
Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat
pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan
sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis,
pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu disimpan
ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila
sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
4.
Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi
adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia
memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan
akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut.
Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya
dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir
siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan
dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu:
a. menata ruangan menjadi rapi
misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya,
menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat
pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis
akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik (Immersion).
Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran
secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna.
b.
penataan
meja guru
gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya
ruangan yang rapid an indah.
5.
Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang
mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang menentukan,
untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen kelas
oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki ventilasi
untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas.
Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak dibuka
serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak kurang
mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh
gema suara. Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran
udara, maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna
disamping memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding
sekolah atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak
melibatkan guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal
di kelasnya.
D.
MACAM-MACAM
PENDEKATAN MANAJEMEN KELAS
Pendekatan manajerial
Upaya penyelenggaraan pembelajaran
dengan menitikberatkan pada upaya guru untuk mengatur dan
mengorganisasikan sesuai dengan persepsi
guru terhadap siswa, dengan kata lain pendekatan ini dipilih berdasar orientasi
guru dan ketercapaian target kurikulum yang harus diselesaikan, pendektan ini
meliputi:
1.
Pendekatan
kekuasaan atau otoriter
Pendekatan otoriter adalah pendekatan yang menempatkan
guru dalam peranan menciptakan dan memelihara ketertiban di kelas dengan
menggunakan strategi pengendalian. Guru otoriter bertindak untuk kepentingan
siswa dengan menerapkan disiplin yang tegas. Bila timbul masalah-masalah yang
merusak ketertiban atau kedisiplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan
dengan:
a.
Perintah dan
larangan
Baik perintah maupun larangan dapat diterapkan atas
dasar generalisasi masalah-masalah pengelolaan kelas tertentu. Seorang guru
dalam melaksanakan perintah dan larangan bersikap reaktif, namun jangkauannya
hanya terbatas pada masalah-masalah yang timbul sewaktu-waktu saja.
b.
Penekanan
dan penguasaan
Penekanan dan penguasaan ini banyak mementingkan pada
diri guru, banyak memerintah, menyuruh bahkan mengomeli. Bila dalam menghadapi
masalah pengelolaan kelas menggunakan pendekatan penguasaan dan penekanan, maka
memungkinkan siswa untuk diam, tertib karena takut dan tertekan hatinya.
Meskipun demikian, pendekatan ini kurang tepat karena kurang toleransi, dan
kurang bijaksana.
c.
Penghukuman
dan pengancaman
Penghukuman muncul dalam berbagai bentuk tingkah laku
antara lain penghukuman dengan kekerasan, dengan larangan bahkan pengusiran,
memaksa siswa untuk meminta maaf kepada seseorang dihadapan siswa lain, memaksa
dengan tuntunan tertentu ataupun dengan ancaman-ancaman lain. Pendekatan
semacam ini termasuk penanganan yang kurang tepat, karena sifat otoriter kurang
manusiawi.
2.
Pendekatan Intimidasi/ Ancaman
Pendekatan intimidasi adalah penekanan pendekatan yang
memandang managemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku siswa.
bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar, paksaan, ancaman,
serta menyalahkan. Pendekatan intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan
menggunakan teguran keras. Peran guru disini adalah menggiring peserta didik
berperilaku sesuai dengan keinginan guru sehingga mereka merasa takut untuk
melanggarnya. Pendekatan intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan
menggunakan teguran keras. Teguran keras adalah perintah yang diberikan pada
situasi tertentu dengan maksud untuk segera menghentikan perilaku peserta didik
yang menyimpang. Sekalalipun pendekatan ini secara luas dan ada manfaatnya,
terdapat banyak kecaman terhadap pendekatan ini.
Penggunaan pendekatan ini hanya bersifat pemecahan
masalah secara sementara dan hanya menangani gejala masalahnya, bukan masalah
itu sendiri. Kelemahan yang timbul dari penerapan pendekatan ini adalah
tumbuhnya sikap bermusuhan dan hancurnya hubungan antara guru dan siswa.
3.
Pendekatan
Permisif
Pengelolaan pendekatan permisif disini diartikan
sebagai suatu proses untuk membantu siswa agar merasa bebas untuk mengerjakan
sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah untuk meningkatkan
kebebasan siswa. Campur tangan guru hendaknya seminimal mungkin dan guru
hendaknya juga berperan sebagai pendorong untuk mengembangkan potensi siswa
secara penuh. Peranan pendekatan ini bertentangan langsung dengan dengan
pendekatan intimidasi. Esensi pendekatan terletak pada peran guru memaksimalkan
kebebasan peserta didik, membantu peserta didik merasa bebas melakukan apa yang
mereka mau. Pendekatan permisif sedikit penganjurnya. Pendekatan ini kurang menyadari bahwa sekolah
dan kelas adalah sistem sosial yang memiliki pranata-pranata sosial. Banyak
pendapat yang mengatakan bahwa pendekatan permisif dalam bentuknya yang murni
tidak produktif diterapkan dalam situasi atau lingkungan sekolah dan kelas.
Para peserta didik sebaiknya memperoleh kesempatan secara psikologi memikul
resiko yang aman, mengatur kegiatan sekolah sesuai cakupannya, mengembangkan kemampuan
memimpin diri sendiri, dan tanggung jawab sendiri.
4.
Pendekatan
Resep / Buku masak
Pendekatan buku masak adalah pendekatan berbentuk
rekomendasi berisi daftar hal yang harus dilakuan atau yang harus tidak
dilakukan oleh seorang guru apabila mengahadapi
berbagai tipe masalah managemen kelas tanpa banyak berfikir lagi.
Pendekatan resep (cook
book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa
yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua
masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap
demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti
petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
5.
Pendekatan
instruksional
Managemen kelas melalui pendekatan ini mengacu pada
tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Dengan demikian peranan guru adalah
merencanakan dengan teliti, cermat dengan pelajaran yang baik, kegiatan belajar
yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa. Pendekatan instruksional
dalam managemen kelas memandang perilaku instruksional guru agar mempunyai
potensi untuk mencapai tujuan utama managemen kelas, yaitu mencegah timbulnya
masalah.
Cukup banyak contoh yang membuktikan bahwa kegiatan
belajar-mengajar yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik adalah faktor
utama dalam pencegahan timbulnya masalah managemen kelas. Sebaliknya banyak
kenyataan yang mendukung pendirian bahwa kegiatan belajar-mengajar yang
direncanakan dan dilaksanakan dengan tidak baik adalah penyebab utama timbulnya
masalah managemen kelas.
Perilaku instruksional mempunyai potensi mencapai dua
tujuan utama managemen kelas, yaitu:
a. Mencegah timbulnya masalah managerial
b. Memecahkan masalah managerial
Para pengembang pendekatan instruksional menyarankan
kepada guru untuk memperhatikan hal-hal berikut:
a.
Menyampaikan
kurikulum dan pelajaran yang menarik, relevan dan sesuai agar tidak ada
perilaku menyimpang dari siswa
b.
Menerapkan
kegiatan yang efektif, kemampuan guru mengatur arus dan tempo kelas oleh banyak
orang sehingga mencegah siswa melainkan mengahadapi tugasnya. Kegiatan guru
yang tidak efektif, misalnya yang bertele-tele, meloncat-loncat akan mengundang
perilaku siswa untuk menyimpang.
c.
Menyajikan
kegiatan daftar rutin kelas adalah kegiatan sehari-hari yang perlu dipahami dan
dilakukan oleh siswa di kelas, kegiatan ini disampaikan oleh guru kepada siswa
pada awal pertemuan dikelas.
d.
Memberikan
pengarahan yang jelas adalah kegiatan mengkomunikasikan harapan-harapan yang
diingingkan oleh guru. Misalnya melalui instruksi yang jelas, sederhana,
ringkas sistematis dan tepat sasaran.
e.
Menggunakan
dorongan yang bermakna suatu proses dimana guru berusaha menunjukkan minat yang
sungguh-sungguh terhadap perilaku siswa yang menunjukkan tanda-tanda kebosanan
dan keresahan.
f.
Memberikan
bantuan mengatasi rintangan adalah bentuk pertolongan yang diberikan oleh guru
untuk membantu siswa mengahadapi persoalan yang mematahkan semangat, pada saat
mereka benar-benar memerlukan
g.
Mengatur
kembali struktur situasi atau mengerjakan tugas dengan cara lain.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Barry, M.
Dahlan. Pius A., 1994. Kamus ilmiah
Populer. Surabaya:Arkola.
Rahman,
Maman. 2001. Managemen Kelas. Muara
Bulian.
Abdurrahman.
1994. Pengelolaan Pengajaran. Ujungpandang: Bintang Selatan.
Arikunto, S.
1989. Managemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
Padmono, Y.
2011. Manajemen Kelas. Salatiga: Widyasari.
Pendekatan seperti apa yg bisa membuat siswa termotivasi?
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus